Langsung ke konten utama

Pesan Untukmu #2


Hey, sini kubisikkan sesuatu. Aku tak mau kau terlalu banyak menerima nasihat dari orang lain. Meski pada akhirnya kau akan membuang segala perkataan itu ke tong sampah.
Hey, dengarkan baik-baik kalimatku ini. Kau tidak harus selalu menyakiti dirimu. Kau boleh menangis, boleh bersedih, boleh tertawa bahkan boleh bahagia. Itu hak batinmu. Jangan kau batasi. Meski sering kali kepura-puraan selalu menutupi binar matamu.
Hey, dimanapun kau berada. Kau tak selalu bisa menemukan seseorang yang kau pikir sudah kau anggap tepat. Tapi ternyata justru sebaliknya. Kau tidak pernah menemukan orang yg tepat. Kau lupa bahwa setiap org pandai memainkan perannya dipanggung sandiwara ini.
Hey, terima saja bila sesiapapun menjauh darimu. Tak usah paksakan kakinya selalu berpijak didekatmu. Kau harus siap atas segala ketidakpastian yang mungkin terjadi. Bak ditebas pedang, harapan yang sempat kau tumbuhkan pun lenyap seketika. Bahkan tak kau temui rimbanya kemana.
Hey, jangan sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Kesalahanmu hari ini mungkin memang ulahmu. Namun jangan terlalu merutuk diri. Kau berhak atas setiap bahagia yang mampir. Meski berulang kali kau tolak karena perasaanmu yang perlahan-lahan lenyap bak abu.
Hey, selain dirimu. Izinkan orang lain membuatmu bahagia. Izinkan, meski diujungnya mereka akan menyisakan memar yang parah.
Setelah itu lupakan. Anggap semuanya menjadi bunga tidurmu. Kau sedang tidur dibumi yang manusianya punya dinding besar yang tak mampu kau tembus keberadaannya.
Hey, kuatlah. Aku ingin memeluk dirimu dengan erat. Biar remuk segala penat yang hinggap di batin dan ragamu.
Bila ada hari esok yang masih cerah, berlarilah dibawah langitnya. Lepaskan alas kakimu. Tertawalah. Sampai kau lelah. Berteriaklah jika itu perlu. Peluk erat dirimu. Kau berhak atas semua itu.

Tertanda,
Diriku

Postingan populer dari blog ini

What is your hobby?

Aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Terutama pada kata-kata yang membutuhkan nurani untuk menerjemahkan nya. Meski tersurat, namun sebenarnya banyak juga yang tersirat. Seingatku, kala itu aku masih kelas 6 SD dan sungguh ingin sekali menuliskan apapun yang di alami setiap harinya. Dan hal itu dimulai pada buku kecil yang sering sekali aku sebut “diary”. Aku menuliskan apa saja disana. Mulai dari cerita mengesalkan sampai kepada biodata-biodata teman sekelasku yang ingin aku kumpulkan. Yaah, entah untuk apa. Namun ketika aku membaca tulisan itu kembali, aku tertawa sendiri. Tawa yang menyadari bahwa ternyata anak SD itu benar-benar masih polos dan putih. Oh iya, aku juga ingat pada waktu itu aku sangat menyukai buku buku bergambar untuk dijadikan diary. Rasanya indah sekali untuk dibaca. Dan hal yang harus aku terima adalah aku kehilangan diary pertama ku. Rasanya kesal sekali tapi yasudahlah.. tidak apa-apa. Toh kan masih ada ingatan dalam kepala yang InshaAllah takkan hilang he...

Surat Darinya

Semua itu terbantahkan hari ini. Katanya, dia menyukai binar mataku. Katanya lagi, saat melihat mataku dia bisa membaca segala sesuatu perihal aku. Ah lagi dan lagi aku tak mengerti mengapa ada orang yang seperti itu. Pesannya singkat sekali. Yang kutangkap dari pesannya via WA itu adalah dia ingin aku merangkul yang lainnya, meski tidak ada seorangpun yang merangkulku.  Kala segenap rasa itu menumpuk menjadi satu. Aku ingin menceritakannya kepada satu orang saja. Kusebut dia teman. Namun lambat laun aku kehilangannya. Bukan karena aku ataupun dia yang pergi. Tapi sebab waktu yang memaksa kami untuk tidak tinggal bersama lagi. Lagi, aku termakan janji-janji manis.  Aku terlalu mudah percaya pada seseorang. Bila aku mengizinkan seseorang masuk untuk mengenal ruang kosong dalam diriku. Itu artinya, aku mempercayakannya. Bila aku telah melakukannya. Maka jangan coba untuk mempermainkannya. Sebab itu juga aku mudah kecewa.  Dulu, pernah kukatakan didepan 5 pasang m...

Menjadi yang Terbaik diantara Penduduk Langit

Aku melihat lautan manusia. Masing-masing membawa ego dalam kepala. Bukan itu saja. Aku melihat hal-hal yang tak tampak di pelupuk mata namun bisa terasa, nyata sekali. Aku melihat banyak manusia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik menurut versi penduduk bumi. Mereka bahkan ada yang bersikukuh mempertahankan tamengnya demi tropi yang nantinya mereka terima. Aku tidak menyalahkan semua ambisi itu. Bagiku, wajar saja. Selagi masih tinggal di bumi. Apa salahnya meraih hal-hal semacam itu? Tak ada. Namun terkadang kita lupa. Lupa akan sesuatu yg ternyata begitu penting bila ditelaah lebih jauh. Terkadang, kita bergantung pada versi 'terbaik' menurut manusia. Kita mengatur kata-kata kita serapih mungkin agar bisa diterima. Kita mengatur sikap kita sesopan mungkin agar bisa dikata, "Oh iya anak itu sopan sekali. Aku suka sikapnya". Kita mengatur segala sesuatunya agar bisa diterima dengan baik. Dan berusaha menjadi versi terbaik menurut mereka. Lalu saat kamu p...