Hey, sini kubisikkan sesuatu. Aku tak mau kau terlalu banyak menerima nasihat dari orang lain. Meski pada akhirnya kau akan membuang segala perkataan itu ke tong sampah.
Hey, dengarkan baik-baik kalimatku ini. Kau tidak harus selalu menyakiti dirimu. Kau boleh menangis, boleh bersedih, boleh tertawa bahkan boleh bahagia. Itu hak batinmu. Jangan kau batasi. Meski sering kali kepura-puraan selalu menutupi binar matamu.
Hey, dimanapun kau berada. Kau tak selalu bisa menemukan seseorang yang kau pikir sudah kau anggap tepat. Tapi ternyata justru sebaliknya. Kau tidak pernah menemukan orang yg tepat. Kau lupa bahwa setiap org pandai memainkan perannya dipanggung sandiwara ini.
Hey, terima saja bila sesiapapun menjauh darimu. Tak usah paksakan kakinya selalu berpijak didekatmu. Kau harus siap atas segala ketidakpastian yang mungkin terjadi. Bak ditebas pedang, harapan yang sempat kau tumbuhkan pun lenyap seketika. Bahkan tak kau temui rimbanya kemana.
Hey, jangan sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Kesalahanmu hari ini mungkin memang ulahmu. Namun jangan terlalu merutuk diri. Kau berhak atas setiap bahagia yang mampir. Meski berulang kali kau tolak karena perasaanmu yang perlahan-lahan lenyap bak abu.
Hey, selain dirimu. Izinkan orang lain membuatmu bahagia. Izinkan, meski diujungnya mereka akan menyisakan memar yang parah.
Setelah itu lupakan. Anggap semuanya menjadi bunga tidurmu. Kau sedang tidur dibumi yang manusianya punya dinding besar yang tak mampu kau tembus keberadaannya.
Hey, kuatlah. Aku ingin memeluk dirimu dengan erat. Biar remuk segala penat yang hinggap di batin dan ragamu.
Bila ada hari esok yang masih cerah, berlarilah dibawah langitnya. Lepaskan alas kakimu. Tertawalah. Sampai kau lelah. Berteriaklah jika itu perlu. Peluk erat dirimu. Kau berhak atas semua itu.
Hey, dengarkan baik-baik kalimatku ini. Kau tidak harus selalu menyakiti dirimu. Kau boleh menangis, boleh bersedih, boleh tertawa bahkan boleh bahagia. Itu hak batinmu. Jangan kau batasi. Meski sering kali kepura-puraan selalu menutupi binar matamu.
Hey, dimanapun kau berada. Kau tak selalu bisa menemukan seseorang yang kau pikir sudah kau anggap tepat. Tapi ternyata justru sebaliknya. Kau tidak pernah menemukan orang yg tepat. Kau lupa bahwa setiap org pandai memainkan perannya dipanggung sandiwara ini.
Hey, terima saja bila sesiapapun menjauh darimu. Tak usah paksakan kakinya selalu berpijak didekatmu. Kau harus siap atas segala ketidakpastian yang mungkin terjadi. Bak ditebas pedang, harapan yang sempat kau tumbuhkan pun lenyap seketika. Bahkan tak kau temui rimbanya kemana.
Hey, jangan sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Kesalahanmu hari ini mungkin memang ulahmu. Namun jangan terlalu merutuk diri. Kau berhak atas setiap bahagia yang mampir. Meski berulang kali kau tolak karena perasaanmu yang perlahan-lahan lenyap bak abu.
Hey, selain dirimu. Izinkan orang lain membuatmu bahagia. Izinkan, meski diujungnya mereka akan menyisakan memar yang parah.
Setelah itu lupakan. Anggap semuanya menjadi bunga tidurmu. Kau sedang tidur dibumi yang manusianya punya dinding besar yang tak mampu kau tembus keberadaannya.
Hey, kuatlah. Aku ingin memeluk dirimu dengan erat. Biar remuk segala penat yang hinggap di batin dan ragamu.
Bila ada hari esok yang masih cerah, berlarilah dibawah langitnya. Lepaskan alas kakimu. Tertawalah. Sampai kau lelah. Berteriaklah jika itu perlu. Peluk erat dirimu. Kau berhak atas semua itu.
Tertanda,
Diriku
Diriku