Semua itu terbantahkan hari ini. Katanya, dia menyukai binar mataku. Katanya lagi, saat melihat mataku dia bisa membaca segala sesuatu perihal aku. Ah lagi dan lagi aku tak mengerti mengapa ada orang yang seperti itu. Pesannya singkat sekali. Yang kutangkap dari pesannya via WA itu adalah dia ingin aku merangkul yang lainnya, meski tidak ada seorangpun yang merangkulku.
Kala segenap rasa itu menumpuk menjadi satu. Aku ingin menceritakannya kepada satu orang saja. Kusebut dia teman. Namun lambat laun aku kehilangannya. Bukan karena aku ataupun dia yang pergi. Tapi sebab waktu yang memaksa kami untuk tidak tinggal bersama lagi. Lagi, aku termakan janji-janji manis.
Aku terlalu mudah percaya pada seseorang. Bila aku mengizinkan seseorang masuk untuk mengenal ruang kosong dalam diriku. Itu artinya, aku mempercayakannya. Bila aku telah melakukannya. Maka jangan coba untuk mempermainkannya. Sebab itu juga aku mudah kecewa.
Dulu, pernah kukatakan didepan 5 pasang mata bahwa aku pernah merasa begitu dikucilkan. Tidak dianggap. Terasing. Dan sebab itu aku ingin pergi. Lenyap. Lalu kutemui jawabannya dari salah seorang kakak yang membuatku mengerti bahwa kita harus menemukan 'kenyamanan' di suatu tempat. Agar kita betah, agar kita bertahan, dan agar kita tak merasa sendirian.
Pesan itu diperkuat lagi oleh seorang yang menyebutkanku sahabatnya. "Intinya ikhlas". Dan hal itulah yang sedang aku pelajari saat ini. Aku akan mencoba untuk merangkul, mencoba ikhlas, mencoba bertahan di tahun-tahun yang menggetarkan sebagian keyakinanku.
Pasti ada saja halang rintangan dijalan nanti. Tapi, aku akan coba. Aku tidak janji. Sebab aku tau bagaimana sakitnya saat orang-orang yang berjanji itu lupa dan membuang segala kata-katanya di tong sampah.
Setidaknya nanti, tegur aku kembali. Bila menemukanku berdiam diri, tertunduk, mataku tak ingin menatap orang lain. Tolong jangan bertanya, "Kau kenapa?". Rangkul aku. Terkadang aku butuh pelukan yang meredakan sebagian emosi yang tak bisa kutumpahkan lewat kata dan mata.
Bila tak ada yang bisa. Disudut kamar itu pernah aku lakukan sendiri. Aku memeluk diriku dengan erat. Erat sekali. Sampai angin tak berniat lagi mengusikku.
"Satu lagi, kamu tidak sendiri. Mereka ada disekelilingmu."
Dan aku masih tidak percaya itu.
Komentar