Langsung ke konten utama

What is your hobby?


Aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Terutama pada kata-kata yang membutuhkan nurani untuk menerjemahkan nya. Meski tersurat, namun sebenarnya banyak juga yang tersirat. Seingatku, kala itu aku masih kelas 6 SD dan sungguh ingin sekali menuliskan apapun yang di alami setiap harinya. Dan hal itu dimulai pada buku kecil yang sering sekali aku sebut “diary”. Aku menuliskan apa saja disana. Mulai dari cerita mengesalkan sampai kepada biodata-biodata teman sekelasku yang ingin aku kumpulkan. Yaah, entah untuk apa. Namun ketika aku membaca tulisan itu kembali, aku tertawa sendiri. Tawa yang menyadari bahwa ternyata anak SD itu benar-benar masih polos dan putih. Oh iya, aku juga ingat pada waktu itu aku sangat menyukai buku buku bergambar untuk dijadikan diary. Rasanya indah sekali untuk dibaca. Dan hal yang harus aku terima adalah aku kehilangan diary pertama ku. Rasanya kesal sekali tapi yasudahlah.. tidak apa-apa. Toh kan masih ada ingatan dalam kepala yang InshaAllah takkan hilang heheh.
Kegemaran ku pada dunia tulis menulis semakin bertambah ketika aku menginjak SMP. Dan sepertinya semakin parah *Parah dalam artian yang baik yaaa. Aku mulai suka menulis cerita cerita dan karangan yang berdasarkan perasaanku sendiri. Bahkan ketika menulis aku sempat baperan dan meneteskan airmata tentang apa yang aku tulis. Dan tak jarang, ketika ku bolak balik lembaran demi lembaran. Aku akan menemukan tulisan yang mulai memudar akibat ditumpahi air yang jatuhnya dari mata. Juga aku menemukan tulisan tulisan seperti cakar ayam yang ukuran dan bentuknya sungguh berantakan. Aku pikir, mungkin waktu menuliskannya aku sedang kesal sekali. Dan dari semua tulisan yang pernah aku tulis pada waktu itu. Aku mengakui bahwa aku pernah sangat puitis tentang masalah hati. Tak ku sangka, ternyata aku sedikit lebay pada waktu itu hahah.
    Bagiku, tidak masalah jika seseorang itu menuliskan apa yang ada dipikirannya atau apa yang sedang dirasakannya. Yang tak boleh adalah menuliskan sesuatu yang menimbulkan rasa benci antar sesama. Aku pernah menuliskan puisi-puisi patah hati. Dan ketika membaca nya kembali, aku tersulut emosi dan ingin merasakan kata demi kata hanya dengan hati. Aku pernah menuliskan sebuah surat cinta untuk seseorang ah sayangnya aku tak punya cukup keberanian untuk memberikan itu kepada si penerimanya. Dan kali itu juga aku memahami bahwa ternyata gengsi ku telah mengalahkan nyali ku sendiri. Aku juga pernah mengarang sebuah cerita yang bukan tentang aku, tapi ternyata apa yang aku tulis itu terjadi padaku sendiri. Dan aku kena batunya untuk kali itu. Memang benar, tidak semua yang aku tuliskan adalah tentang diriku, tentang mereka, tentang dia bahkan ada yang aku tulis dengan penuh khayalan gila yang ketika membacanya ah aku pikir ini takkan masuk akal sama sekali.
Saat-saat yang paling aku sukai untuk menulis adalah pada malam hari. Aku merasakan ada pikiran liar yang merasuk ke dalam diriku dan ia menggerakkan jari jemariku untuk menuliskan sesuatu. Suasana yang begitu damai bagiku adalah ketika hujan turun kapan saja. Aku seperti ingin sekali menuliskan setiap detail apa yang sedang aku rasakan ketika hujan turun di tempatku. Semisal semilir angin nya, rintikannya, bau tanahnya yang basah, kesejukannya, juga seseorang yang aku ingat setelahnya. Ah sudahlah.. lupakan!
Bukan menulis saja hobi yang sangat aku senangi tetapi membaca juga adalah hobiku. Aku seperti ingin melahap semua buku-buku yang ada di depan ku ketika aku berada di salah satu toko buku. Dan itu memberikan kepuasan tersendiri bagiku ketika menemukan buku bacaan yang sesuai dengan diriku. Yang kata-katanya mampu menggelitik hatiku saat membacanya.

salah satu majalah yang ada karya tulisku di dalamnya

Bagiku, buku bacaan yang isinya benar-benar menarik itu adalah buku yang setiap kali ketika membacanya aku menemukan energi baru dan sungguh candu rasanya. Entah pada kata-katanya atau mungkin pada pesan tersirat yang tertoreh di dalamnya. Selain suka membaca buku karya para penulis yang sudah berpengalaman di bidangnya, aku juga suka membaca hasil tulisanku sendiri. Bahkan pernah aku menyadari saat setelah membaca tulisanku “ah mengapa aku jadi sepuitis ini”.
Dua hobi yang bagiku sangat saling berhubungan dan justru begitu menyenangkan.
Menulis itu seperti merefleksikan diri.
Membaca itu seperti menyelami apa saja yang belum diketahui.

Itulah hobiku, apa hobimu?



Postingan populer dari blog ini

Surat Darinya

Semua itu terbantahkan hari ini. Katanya, dia menyukai binar mataku. Katanya lagi, saat melihat mataku dia bisa membaca segala sesuatu perihal aku. Ah lagi dan lagi aku tak mengerti mengapa ada orang yang seperti itu. Pesannya singkat sekali. Yang kutangkap dari pesannya via WA itu adalah dia ingin aku merangkul yang lainnya, meski tidak ada seorangpun yang merangkulku.  Kala segenap rasa itu menumpuk menjadi satu. Aku ingin menceritakannya kepada satu orang saja. Kusebut dia teman. Namun lambat laun aku kehilangannya. Bukan karena aku ataupun dia yang pergi. Tapi sebab waktu yang memaksa kami untuk tidak tinggal bersama lagi. Lagi, aku termakan janji-janji manis.  Aku terlalu mudah percaya pada seseorang. Bila aku mengizinkan seseorang masuk untuk mengenal ruang kosong dalam diriku. Itu artinya, aku mempercayakannya. Bila aku telah melakukannya. Maka jangan coba untuk mempermainkannya. Sebab itu juga aku mudah kecewa.  Dulu, pernah kukatakan didepan 5 pasang m...

Menjadi yang Terbaik diantara Penduduk Langit

Aku melihat lautan manusia. Masing-masing membawa ego dalam kepala. Bukan itu saja. Aku melihat hal-hal yang tak tampak di pelupuk mata namun bisa terasa, nyata sekali. Aku melihat banyak manusia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik menurut versi penduduk bumi. Mereka bahkan ada yang bersikukuh mempertahankan tamengnya demi tropi yang nantinya mereka terima. Aku tidak menyalahkan semua ambisi itu. Bagiku, wajar saja. Selagi masih tinggal di bumi. Apa salahnya meraih hal-hal semacam itu? Tak ada. Namun terkadang kita lupa. Lupa akan sesuatu yg ternyata begitu penting bila ditelaah lebih jauh. Terkadang, kita bergantung pada versi 'terbaik' menurut manusia. Kita mengatur kata-kata kita serapih mungkin agar bisa diterima. Kita mengatur sikap kita sesopan mungkin agar bisa dikata, "Oh iya anak itu sopan sekali. Aku suka sikapnya". Kita mengatur segala sesuatunya agar bisa diterima dengan baik. Dan berusaha menjadi versi terbaik menurut mereka. Lalu saat kamu p...