Aku melihat lautan manusia. Masing-masing membawa ego dalam kepala. Bukan itu saja. Aku melihat hal-hal yang tak tampak di pelupuk mata namun bisa terasa, nyata sekali.
Aku melihat banyak manusia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik menurut versi penduduk bumi. Mereka bahkan ada yang bersikukuh mempertahankan tamengnya demi tropi yang nantinya mereka terima.
Aku tidak menyalahkan semua ambisi itu. Bagiku, wajar saja. Selagi masih tinggal di bumi. Apa salahnya meraih hal-hal semacam itu? Tak ada. Namun terkadang kita lupa. Lupa akan sesuatu yg ternyata begitu penting bila ditelaah lebih jauh.
Terkadang, kita bergantung pada versi 'terbaik' menurut manusia. Kita mengatur kata-kata kita serapih mungkin agar bisa diterima. Kita mengatur sikap kita sesopan mungkin agar bisa dikata, "Oh iya anak itu sopan sekali. Aku suka sikapnya". Kita mengatur segala sesuatunya agar bisa diterima dengan baik. Dan berusaha menjadi versi terbaik menurut mereka.
Lalu saat kamu pulang kerumah. Rumah, tempat semua topengmu terbuka. Kamu tak pernah berusaha mengatur hal-hal yang kamu lakukan tadi pada orang tuamu. Kamu masih saja berkata kasar. Padahal diluar sana, didepan mereka, kata-katamu amat manis sekali seperti gula tebu.
Terdengar lucu memang. Kita inginnya terlihat baik dimata orang lain. Berlomba-lomba mencari sekelumit hal agar dicap 'baik'. Namun lagi-lagi lupa berbuat baik yang sebenar-benarnya pada orang yang Tuhan saja sudah berkata bahwa surga berada dibawah telapak kakinya. Ya, telapak kaki ibu kita.
Ada yang diam-diam kamu sakiti hatinya sebab ingin terlihat baik dimata teman-temanmu, atasanmu dan siapapun yang mengenalmu.
Bila kamu menyadari satu hal, bahwa manusia adalah makhluk yang pandai sekali memanipulasi sikapnya. Maka kamupun akan paham, bila menjadi yang terbaik diantara penduduk bumi akan kalah dengan menjadi yang terbaik diantara penduduk langit.
Kejar ridhonya, orang tuamu. Maka ridhoNya pun akan kamu dapatkan jua.
Sekian.
Aku melihat banyak manusia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik menurut versi penduduk bumi. Mereka bahkan ada yang bersikukuh mempertahankan tamengnya demi tropi yang nantinya mereka terima.
Aku tidak menyalahkan semua ambisi itu. Bagiku, wajar saja. Selagi masih tinggal di bumi. Apa salahnya meraih hal-hal semacam itu? Tak ada. Namun terkadang kita lupa. Lupa akan sesuatu yg ternyata begitu penting bila ditelaah lebih jauh.
Terkadang, kita bergantung pada versi 'terbaik' menurut manusia. Kita mengatur kata-kata kita serapih mungkin agar bisa diterima. Kita mengatur sikap kita sesopan mungkin agar bisa dikata, "Oh iya anak itu sopan sekali. Aku suka sikapnya". Kita mengatur segala sesuatunya agar bisa diterima dengan baik. Dan berusaha menjadi versi terbaik menurut mereka.
Lalu saat kamu pulang kerumah. Rumah, tempat semua topengmu terbuka. Kamu tak pernah berusaha mengatur hal-hal yang kamu lakukan tadi pada orang tuamu. Kamu masih saja berkata kasar. Padahal diluar sana, didepan mereka, kata-katamu amat manis sekali seperti gula tebu.
Terdengar lucu memang. Kita inginnya terlihat baik dimata orang lain. Berlomba-lomba mencari sekelumit hal agar dicap 'baik'. Namun lagi-lagi lupa berbuat baik yang sebenar-benarnya pada orang yang Tuhan saja sudah berkata bahwa surga berada dibawah telapak kakinya. Ya, telapak kaki ibu kita.
Ada yang diam-diam kamu sakiti hatinya sebab ingin terlihat baik dimata teman-temanmu, atasanmu dan siapapun yang mengenalmu.
Bila kamu menyadari satu hal, bahwa manusia adalah makhluk yang pandai sekali memanipulasi sikapnya. Maka kamupun akan paham, bila menjadi yang terbaik diantara penduduk bumi akan kalah dengan menjadi yang terbaik diantara penduduk langit.
Kejar ridhonya, orang tuamu. Maka ridhoNya pun akan kamu dapatkan jua.
Sekian.
Komentar