Langsung ke konten utama

Menjadi Reporter #1


reporter kampus yang berkunjung ke kantor tv one sumut



Tak pernah menduga akan diletakkan pada subdivisi yang katanya kuli tinta ini. Tapi setelah menjalani, berusaha menerima seikhlas hati dan mengikuti segalanya. Akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa menjadi reporter membuatku harus menerima banyak tantangan. Kenapa begitu?

Baiklah akan kuberitahu. Mungkin yang sudah kenal denganku cukup lama akan tahu bagaimana perubahan diriku sekarang. Penakut adalah Aku yang dulu (sekarang pun masih hahaha). Tak berani berbicara didepan orang baru, gemetaran jika ingin menyampaikan sesuatu bahkan tak memiliki bekal awal untuk menulis semacam liputan yang butuh bertemu orang baru untuk diwawancarai.

Hobiku dulu hanya menuliskan segala sesuatunya dalam diary. Hingga tersadar saat membaca tulisan yang dulu, sedikit jijik rasanya hahaha. Tapi tak apa, itulah yang dinamakan awal (sejak itu Aku suka menulis cerita bahkan mengarang sebebas-bebasnya, seenak jidat saja).

Baik, kembali ke topik semula. Kupikir, menulis itu hanya tentang bercerita. Nyatanya tidak. Aku harus mengumpulkan beberapa data untuk menjadi bahan tulisan. Dan itu harus data yang valid agar tulisannya kredibel. Sejak itulah bertemu dengan orang baru sudah menjadi terbiasa bagiku. Meskipun kegugupan selalu hadir di diri ini.

Apalagi ketika bertemu dengan orang nomor satu di kampusku. Kupikir akan sangat menegangkan, eh ternyata justru menyenangkan wkwk.

Lama kelamaan, suka duka menjadi reporter ingin sekali kutuliskan dalam bentuk episode di blog ini. Meskipun (masih) reporter sekitar kampus.
Lalu bagaimana gregetnya menjadi reporter dihari pertama?

Bersambung

Postingan populer dari blog ini

What is your hobby?

Aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Terutama pada kata-kata yang membutuhkan nurani untuk menerjemahkan nya. Meski tersurat, namun sebenarnya banyak juga yang tersirat. Seingatku, kala itu aku masih kelas 6 SD dan sungguh ingin sekali menuliskan apapun yang di alami setiap harinya. Dan hal itu dimulai pada buku kecil yang sering sekali aku sebut “diary”. Aku menuliskan apa saja disana. Mulai dari cerita mengesalkan sampai kepada biodata-biodata teman sekelasku yang ingin aku kumpulkan. Yaah, entah untuk apa. Namun ketika aku membaca tulisan itu kembali, aku tertawa sendiri. Tawa yang menyadari bahwa ternyata anak SD itu benar-benar masih polos dan putih. Oh iya, aku juga ingat pada waktu itu aku sangat menyukai buku buku bergambar untuk dijadikan diary. Rasanya indah sekali untuk dibaca. Dan hal yang harus aku terima adalah aku kehilangan diary pertama ku. Rasanya kesal sekali tapi yasudahlah.. tidak apa-apa. Toh kan masih ada ingatan dalam kepala yang InshaAllah takkan hilang he...

Surat Darinya

Semua itu terbantahkan hari ini. Katanya, dia menyukai binar mataku. Katanya lagi, saat melihat mataku dia bisa membaca segala sesuatu perihal aku. Ah lagi dan lagi aku tak mengerti mengapa ada orang yang seperti itu. Pesannya singkat sekali. Yang kutangkap dari pesannya via WA itu adalah dia ingin aku merangkul yang lainnya, meski tidak ada seorangpun yang merangkulku.  Kala segenap rasa itu menumpuk menjadi satu. Aku ingin menceritakannya kepada satu orang saja. Kusebut dia teman. Namun lambat laun aku kehilangannya. Bukan karena aku ataupun dia yang pergi. Tapi sebab waktu yang memaksa kami untuk tidak tinggal bersama lagi. Lagi, aku termakan janji-janji manis.  Aku terlalu mudah percaya pada seseorang. Bila aku mengizinkan seseorang masuk untuk mengenal ruang kosong dalam diriku. Itu artinya, aku mempercayakannya. Bila aku telah melakukannya. Maka jangan coba untuk mempermainkannya. Sebab itu juga aku mudah kecewa.  Dulu, pernah kukatakan didepan 5 pasang m...

Menjadi yang Terbaik diantara Penduduk Langit

Aku melihat lautan manusia. Masing-masing membawa ego dalam kepala. Bukan itu saja. Aku melihat hal-hal yang tak tampak di pelupuk mata namun bisa terasa, nyata sekali. Aku melihat banyak manusia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik menurut versi penduduk bumi. Mereka bahkan ada yang bersikukuh mempertahankan tamengnya demi tropi yang nantinya mereka terima. Aku tidak menyalahkan semua ambisi itu. Bagiku, wajar saja. Selagi masih tinggal di bumi. Apa salahnya meraih hal-hal semacam itu? Tak ada. Namun terkadang kita lupa. Lupa akan sesuatu yg ternyata begitu penting bila ditelaah lebih jauh. Terkadang, kita bergantung pada versi 'terbaik' menurut manusia. Kita mengatur kata-kata kita serapih mungkin agar bisa diterima. Kita mengatur sikap kita sesopan mungkin agar bisa dikata, "Oh iya anak itu sopan sekali. Aku suka sikapnya". Kita mengatur segala sesuatunya agar bisa diterima dengan baik. Dan berusaha menjadi versi terbaik menurut mereka. Lalu saat kamu p...