Langsung ke konten utama

Laskar Pena #1

divisi redaksi lpm dinamika 2019-2020
'Waktu cepat sekali berlalu ya'

Agaknya itulah yang kurasakan saat ini. Tak terasa memang. Karena dulu pun tak menyangka akan tetap bertahan sampai kini. Seklise itu. 

Tapi sejak itu juga Aku semakin bersyukur. Kenapa? Sebab orang-orang baik senantiasa berada disekelilingku. Entah itu untuk mengingatkan, memberi pelukan atau pun menjadi tong sampah ternyaman eh maksudnya tempat cerita paling aman haha karena mampu mendengarkan segala keluh dan peluh yang dikeluarkan atas hari-hari yang dilalui.

Orang-orang baik itu, kusebut mereka dengan 'laskar pena'. Kenapa? insyaAllah mereka disatukan disini dalam tujuan baik yang sama yaitu belajar. Laskar Pena sendiri menggambarkan bahwa mereka adalah pasukan yang siap untuk menulis. Semoga Allah istikamahkan hati mereka untuk selalu menulis dan juga beribadah aamiin.

Kata seseorang kepadaku, 
"Sekarang kamu sudah menjadi Ibu, Syaf"

Aku heran dengan perkataannya barusan. 
Lalu kutanya, 

"Ibu macam apa yang masih belajar mencintai anak-anaknya?"

"Belajar mencintai itu tidak salah. Buktinya kamu bisa", katanya lagi sambil meyakinkanku.

Ah perkataan seseorang itu selalu saja menancap dikepalaku. Tak mau pergi kemanapun. Dan sekarang, Aku tersadar bila ada tiga puluh sembilan orang yang harus kubaca satu persatu kisahnya.

Laskar Pena, tetaplah membersamaiku :)

Postingan populer dari blog ini

What is your hobby?

Aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Terutama pada kata-kata yang membutuhkan nurani untuk menerjemahkan nya. Meski tersurat, namun sebenarnya banyak juga yang tersirat. Seingatku, kala itu aku masih kelas 6 SD dan sungguh ingin sekali menuliskan apapun yang di alami setiap harinya. Dan hal itu dimulai pada buku kecil yang sering sekali aku sebut “diary”. Aku menuliskan apa saja disana. Mulai dari cerita mengesalkan sampai kepada biodata-biodata teman sekelasku yang ingin aku kumpulkan. Yaah, entah untuk apa. Namun ketika aku membaca tulisan itu kembali, aku tertawa sendiri. Tawa yang menyadari bahwa ternyata anak SD itu benar-benar masih polos dan putih. Oh iya, aku juga ingat pada waktu itu aku sangat menyukai buku buku bergambar untuk dijadikan diary. Rasanya indah sekali untuk dibaca. Dan hal yang harus aku terima adalah aku kehilangan diary pertama ku. Rasanya kesal sekali tapi yasudahlah.. tidak apa-apa. Toh kan masih ada ingatan dalam kepala yang InshaAllah takkan hilang he...

Surat Darinya

Semua itu terbantahkan hari ini. Katanya, dia menyukai binar mataku. Katanya lagi, saat melihat mataku dia bisa membaca segala sesuatu perihal aku. Ah lagi dan lagi aku tak mengerti mengapa ada orang yang seperti itu. Pesannya singkat sekali. Yang kutangkap dari pesannya via WA itu adalah dia ingin aku merangkul yang lainnya, meski tidak ada seorangpun yang merangkulku.  Kala segenap rasa itu menumpuk menjadi satu. Aku ingin menceritakannya kepada satu orang saja. Kusebut dia teman. Namun lambat laun aku kehilangannya. Bukan karena aku ataupun dia yang pergi. Tapi sebab waktu yang memaksa kami untuk tidak tinggal bersama lagi. Lagi, aku termakan janji-janji manis.  Aku terlalu mudah percaya pada seseorang. Bila aku mengizinkan seseorang masuk untuk mengenal ruang kosong dalam diriku. Itu artinya, aku mempercayakannya. Bila aku telah melakukannya. Maka jangan coba untuk mempermainkannya. Sebab itu juga aku mudah kecewa.  Dulu, pernah kukatakan didepan 5 pasang m...

Menjadi yang Terbaik diantara Penduduk Langit

Aku melihat lautan manusia. Masing-masing membawa ego dalam kepala. Bukan itu saja. Aku melihat hal-hal yang tak tampak di pelupuk mata namun bisa terasa, nyata sekali. Aku melihat banyak manusia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik menurut versi penduduk bumi. Mereka bahkan ada yang bersikukuh mempertahankan tamengnya demi tropi yang nantinya mereka terima. Aku tidak menyalahkan semua ambisi itu. Bagiku, wajar saja. Selagi masih tinggal di bumi. Apa salahnya meraih hal-hal semacam itu? Tak ada. Namun terkadang kita lupa. Lupa akan sesuatu yg ternyata begitu penting bila ditelaah lebih jauh. Terkadang, kita bergantung pada versi 'terbaik' menurut manusia. Kita mengatur kata-kata kita serapih mungkin agar bisa diterima. Kita mengatur sikap kita sesopan mungkin agar bisa dikata, "Oh iya anak itu sopan sekali. Aku suka sikapnya". Kita mengatur segala sesuatunya agar bisa diterima dengan baik. Dan berusaha menjadi versi terbaik menurut mereka. Lalu saat kamu p...