Langsung ke konten utama

Surat Darinya

Semua itu terbantahkan hari ini. Katanya, dia menyukai binar mataku. Katanya lagi, saat melihat mataku dia bisa membaca segala sesuatu perihal aku. Ah lagi dan lagi aku tak mengerti mengapa ada orang yang seperti itu. Pesannya singkat sekali. Yang kutangkap dari pesannya via WA itu adalah dia ingin aku merangkul yang lainnya, meski tidak ada seorangpun yang merangkulku. 

Kala segenap rasa itu menumpuk menjadi satu. Aku ingin menceritakannya kepada satu orang saja. Kusebut dia teman. Namun lambat laun aku kehilangannya. Bukan karena aku ataupun dia yang pergi. Tapi sebab waktu yang memaksa kami untuk tidak tinggal bersama lagi. Lagi, aku termakan janji-janji manis. 

Aku terlalu mudah percaya pada seseorang. Bila aku mengizinkan seseorang masuk untuk mengenal ruang kosong dalam diriku. Itu artinya, aku mempercayakannya. Bila aku telah melakukannya. Maka jangan coba untuk mempermainkannya. Sebab itu juga aku mudah kecewa. 

Dulu, pernah kukatakan didepan 5 pasang mata bahwa aku pernah merasa begitu dikucilkan. Tidak dianggap. Terasing. Dan sebab itu aku ingin pergi. Lenyap. Lalu kutemui jawabannya dari salah seorang kakak yang membuatku mengerti bahwa kita harus menemukan 'kenyamanan' di suatu tempat. Agar kita betah, agar kita bertahan, dan agar kita tak merasa sendirian.

Pesan itu diperkuat lagi oleh seorang yang menyebutkanku sahabatnya. "Intinya ikhlas". Dan hal itulah yang sedang aku pelajari saat ini. Aku akan mencoba untuk merangkul, mencoba ikhlas, mencoba bertahan di tahun-tahun yang menggetarkan sebagian keyakinanku. 

Pasti ada saja halang rintangan dijalan nanti. Tapi, aku akan coba. Aku tidak janji. Sebab aku tau bagaimana sakitnya saat orang-orang yang berjanji itu lupa dan membuang segala kata-katanya di tong sampah.
Setidaknya nanti, tegur aku kembali. Bila menemukanku berdiam diri, tertunduk, mataku tak ingin menatap orang lain. Tolong jangan bertanya, "Kau kenapa?". Rangkul aku. Terkadang aku butuh pelukan yang meredakan sebagian emosi yang tak bisa kutumpahkan lewat kata dan mata.

Bila tak ada yang bisa. Disudut kamar itu pernah aku lakukan sendiri. Aku memeluk diriku dengan erat. Erat sekali. Sampai angin tak berniat lagi mengusikku. 

"Satu lagi, kamu tidak sendiri. Mereka ada disekelilingmu."

Dan aku masih tidak percaya itu.

Komentar

Bamzsusilo mengatakan…
Kamu hanya perlu meyakini bahwa di saat kita terjatuh, Orangtua adalah tempat kamu berbagi. Jika ingin yg lebih menenteramkan lagi. Ceritakanlah pada Sang Illahi. Insya Allah hati kembali tenang dan bersinar lagi.

Postingan populer dari blog ini

What is your hobby?

Aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Terutama pada kata-kata yang membutuhkan nurani untuk menerjemahkan nya. Meski tersurat, namun sebenarnya banyak juga yang tersirat. Seingatku, kala itu aku masih kelas 6 SD dan sungguh ingin sekali menuliskan apapun yang di alami setiap harinya. Dan hal itu dimulai pada buku kecil yang sering sekali aku sebut “diary”. Aku menuliskan apa saja disana. Mulai dari cerita mengesalkan sampai kepada biodata-biodata teman sekelasku yang ingin aku kumpulkan. Yaah, entah untuk apa. Namun ketika aku membaca tulisan itu kembali, aku tertawa sendiri. Tawa yang menyadari bahwa ternyata anak SD itu benar-benar masih polos dan putih. Oh iya, aku juga ingat pada waktu itu aku sangat menyukai buku buku bergambar untuk dijadikan diary. Rasanya indah sekali untuk dibaca. Dan hal yang harus aku terima adalah aku kehilangan diary pertama ku. Rasanya kesal sekali tapi yasudahlah.. tidak apa-apa. Toh kan masih ada ingatan dalam kepala yang InshaAllah takkan hilang he...

Menjadi yang Terbaik diantara Penduduk Langit

Aku melihat lautan manusia. Masing-masing membawa ego dalam kepala. Bukan itu saja. Aku melihat hal-hal yang tak tampak di pelupuk mata namun bisa terasa, nyata sekali. Aku melihat banyak manusia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik menurut versi penduduk bumi. Mereka bahkan ada yang bersikukuh mempertahankan tamengnya demi tropi yang nantinya mereka terima. Aku tidak menyalahkan semua ambisi itu. Bagiku, wajar saja. Selagi masih tinggal di bumi. Apa salahnya meraih hal-hal semacam itu? Tak ada. Namun terkadang kita lupa. Lupa akan sesuatu yg ternyata begitu penting bila ditelaah lebih jauh. Terkadang, kita bergantung pada versi 'terbaik' menurut manusia. Kita mengatur kata-kata kita serapih mungkin agar bisa diterima. Kita mengatur sikap kita sesopan mungkin agar bisa dikata, "Oh iya anak itu sopan sekali. Aku suka sikapnya". Kita mengatur segala sesuatunya agar bisa diterima dengan baik. Dan berusaha menjadi versi terbaik menurut mereka. Lalu saat kamu p...