Langsung ke konten utama

Katamu, Kamu Jatuh Cinta


Coba perhatikan baik-baik perasaanmu. Benarkah yang kamu rasakan itu cinta? Atau Cuma dorongan nafsu semata? Sebab yang kutahu, seringkali yang tak tampak itu menipu dirimu. Misalnya ‘cinta’ katamu. Kamu bilang, kamu jatuh cinta ketika pertama kali menemuinya. Ah benarkah? Apa yang pertama kali kamu lihat darinya? Wajahnya? Senyumnya atau setiap centi yang ada pada dirinya? Mengapa kamu begitu mudah menyimpulkannya?

Coba teliti lagi dengan perlahan-lahan. Dimana kamu letakkan apa yang kamu lihat? Di matamu atakah di hatimu? Jika mata, mata memang senang melihat yang indah-indah. Lalu bagaimana dengan hati? Benarkah sama rasanya? Jika sama, bertahan berapa lamakah rasa itu? Apakah akan hilang bila kamu temukan senyum orang lain yang lebih indah?

Sesungguhnya, kamu sering menipu dirimu. Setiap kali kamu mengatakan kamu jatuh cinta. Kamu tidak melibatkan Tuhan di dalamnya. Kamu hanya melibatkan nafsumu dan berusaha memberikan pembenaran atas rasa yang tumbuh. Kamu seringnya keliru. Melakukan ini dan itu dengan alibi kamu telah jatuh cinta. Jatuh cinta seperti apa yang kamu rasakan? Hanya dia yang berputar-putar di duniamu? Hanya dia yang kamu ingat setiap waktu? Lalu kamu letakkan dimana posisi Penciptamu, jika yang kamu ingat selalu hanyalah tentangnya?

Cobalah untuk sadar dan ubah pola pikirmu. Kamu harus melibatkan Dia ketika kamu bilang kamu jatuh cinta. Kamu tidak perlu bersusah payah mengatakan perasaan itu padanya.  Katakan saja pada Dia. Kemudian berserahlah padaNya. Serahkan semua urusan hatimu kepadaNya. Jangan kamu simpan terlalu dalam di hatimu. Sebab hati manusia itu mudah sekali berbolak-balik. Pun mudah sekali rapuh.

Bila katamu, kamu jatuh cinta. Perhatikanlah cinta Khadijah kepada Rasulullah. Maknailah cinta Zulaikha kepada Nabi Yusuf dan Lihatlah kesungguhan cinta Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Semoga kamu belajar sesuatu dari kisah-kisah umat terdahulu.

P.S
Jangan menyelam pada laut yang kamu tidak tahu dimana batasnya. Langkahkan saja kakimu menuju rumahNya. Jika Allah telah menuliskan takdir itu jauh hari sebelum kalian bertemu, maka kalian akan tetap bersama. Perbaiki terus dirimu. Biar yang baik-baik datang kepadamu. Kamu ingin jodoh yang baik, kan?



Postingan populer dari blog ini

What is your hobby?

Aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Terutama pada kata-kata yang membutuhkan nurani untuk menerjemahkan nya. Meski tersurat, namun sebenarnya banyak juga yang tersirat. Seingatku, kala itu aku masih kelas 6 SD dan sungguh ingin sekali menuliskan apapun yang di alami setiap harinya. Dan hal itu dimulai pada buku kecil yang sering sekali aku sebut “diary”. Aku menuliskan apa saja disana. Mulai dari cerita mengesalkan sampai kepada biodata-biodata teman sekelasku yang ingin aku kumpulkan. Yaah, entah untuk apa. Namun ketika aku membaca tulisan itu kembali, aku tertawa sendiri. Tawa yang menyadari bahwa ternyata anak SD itu benar-benar masih polos dan putih. Oh iya, aku juga ingat pada waktu itu aku sangat menyukai buku buku bergambar untuk dijadikan diary. Rasanya indah sekali untuk dibaca. Dan hal yang harus aku terima adalah aku kehilangan diary pertama ku. Rasanya kesal sekali tapi yasudahlah.. tidak apa-apa. Toh kan masih ada ingatan dalam kepala yang InshaAllah takkan hilang he...

Surat Darinya

Semua itu terbantahkan hari ini. Katanya, dia menyukai binar mataku. Katanya lagi, saat melihat mataku dia bisa membaca segala sesuatu perihal aku. Ah lagi dan lagi aku tak mengerti mengapa ada orang yang seperti itu. Pesannya singkat sekali. Yang kutangkap dari pesannya via WA itu adalah dia ingin aku merangkul yang lainnya, meski tidak ada seorangpun yang merangkulku.  Kala segenap rasa itu menumpuk menjadi satu. Aku ingin menceritakannya kepada satu orang saja. Kusebut dia teman. Namun lambat laun aku kehilangannya. Bukan karena aku ataupun dia yang pergi. Tapi sebab waktu yang memaksa kami untuk tidak tinggal bersama lagi. Lagi, aku termakan janji-janji manis.  Aku terlalu mudah percaya pada seseorang. Bila aku mengizinkan seseorang masuk untuk mengenal ruang kosong dalam diriku. Itu artinya, aku mempercayakannya. Bila aku telah melakukannya. Maka jangan coba untuk mempermainkannya. Sebab itu juga aku mudah kecewa.  Dulu, pernah kukatakan didepan 5 pasang m...

Menjadi yang Terbaik diantara Penduduk Langit

Aku melihat lautan manusia. Masing-masing membawa ego dalam kepala. Bukan itu saja. Aku melihat hal-hal yang tak tampak di pelupuk mata namun bisa terasa, nyata sekali. Aku melihat banyak manusia yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik menurut versi penduduk bumi. Mereka bahkan ada yang bersikukuh mempertahankan tamengnya demi tropi yang nantinya mereka terima. Aku tidak menyalahkan semua ambisi itu. Bagiku, wajar saja. Selagi masih tinggal di bumi. Apa salahnya meraih hal-hal semacam itu? Tak ada. Namun terkadang kita lupa. Lupa akan sesuatu yg ternyata begitu penting bila ditelaah lebih jauh. Terkadang, kita bergantung pada versi 'terbaik' menurut manusia. Kita mengatur kata-kata kita serapih mungkin agar bisa diterima. Kita mengatur sikap kita sesopan mungkin agar bisa dikata, "Oh iya anak itu sopan sekali. Aku suka sikapnya". Kita mengatur segala sesuatunya agar bisa diterima dengan baik. Dan berusaha menjadi versi terbaik menurut mereka. Lalu saat kamu p...